Selasa, 15 November 2011

Apa dan siapa DIA - Part 2

Beberapa bulan kemudian....

Dia, ya dia... Dia yang sekarang selalu menemaniku kemana pun dan dimana pun aku berada. Dan sekarang aku mulai mengenal siapa dia,walaupun aku nggak terlalu yakin siapa nama dia sebenarnya. Tapi, aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Dan rasa takut yang dulu aku sajikan untuk penghilang dahaganya kini mulai berkurang. Kini aku sudah mulai terbiasa. Walau ketika dia mulai jahat pada ku dan membuat tubuhku rapuh, aku mulai terbiasa. Ya terbiasa...

Kadang, ketika dia marah pada ku dan membuat tubuh ku sedikit melemah, aku ingin marah padanya dan marah pada Dia sang pencipta alam semesta. "Ini gak adil" batin ku. "Kenapa harus aku? Kenapa nggak mereka?"  pertanyaan itu yang terus aku lontarkan kepada Nya. Walaupun aku tau ini bukan salah Dia, ini hadiah darinya. Dan aku selalu yakin tak ada penyakit yang tak ada obatnya.

Ingin rasanya aku marah pada mereka yang selalu melihat aku aneh. Lontaran kata-kata dari mulut mereka yang membuatku merasa lebih sakit dari apa yang aku rasakan ketika tamu tak ku undang ini marah padaku.
'Penyakitan' kata-kata itu yang menyayat perasaan ku. Aku bukan penyakitan, hanya saja aku belum sembuh!!!

Kata-kata itu terlalu kasar untuk mereka ucapkan. Didunia ini, nggak ada 1 orang pun yang merasa senang dengan sebutan seperti itu, begitu juga dengan ku. Aku juga nggak memilih untuk dilahirkan dengan kondisi  dan daya tahan tubuh yang lemah. Aku ingin selalu sehat dan bebas melakukan apa pun yang aku mau. Tapi, aku si Cindy yang ditakdirkan seperti ini. Aku yakin, suatu saat aku bisa lebih berhasil dari mereka yang meremehkan dan menganggap aku lemah.

***

Liburan semester lalu, kedua orang tua ku mengetahui kondisi ku. Dan mereka segera membawa ku ke seorang dokter yang sudah menjadi dokter kepercayaan keluarga. Rasa takut itu kini bukan hanya aku yang merasakan, tetapi Ayah dan Bunda juga merasakannya. Mungkin takut yang mereka rasakan lebih besar dari pada yang ku rasa. Ingin rasanya aku meminta maaf atas semua ini. Tapi aku tak tau harus menyalahkan siapa dan marah kepada siapa. Hati ku menjerit ketika melihat raut wajah kedua orang tua ku saat itu.

Beberapa saat kemudian. Sosok pria yang usianya tak jauh dari usia Ayah menghampiri kami bertiga. Senyumannya begitu hangat. Sejak kecil, dia selalu menangani ku ketika aku sakit. Dokter Edi terlihat lebih muda dengan senyumannya sore itu. 

"Hai Cindy, apa kabar? Udah lama ya kita nggak ketemu" sapanya dengan lembut. "Gimana kuliah kamu? Lancar? Dengar-dengar kemarin udah wisuda ya? Wah mau kado apa ni dari om?" lanjutnya dan tetap memberikan ku senyuman.

Percakapan yang aku anggap cuma basa - basi itu berlangsung 10 menit. Kemudian aku diajak om Edi masuk kedalam ruang kerjanya. Dingin, putih dan bersih. Aku disambut lembut dengan seorang perawat diruangan om Edi. Perawat itu kemudian mengajakku kedalam ruangan lain, dia memintaku untuk melepaskan semua pakaian yang aku kenakan dan menggantinya dengan pakaian berwarna putih bersih. Setelah itu, aku dituntun lagi keruangan om Edi. Selanjutnya giliran om Edi yang menanganiku. Dia mulai memasang alat-alat yang aku tak tau apa namanya. Aku hanya mengikuti apa yang dia suruh untuk aku lakukan.

Hampir 30 menit aku melalukan proses pemeriksaan. Om Edi meminta ku keluar dan sekarang giliran Ayah Bunda yang memasuki ruangannya. Beberapa saat kemudian, Ayah, Bunda dan om Edi keluar. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Yang terlintas dipokiranku hanya lah nama-nama tentang siapa dia yang dulu pernah aku cari. Serasa mengikuti ujian akhir sekolah yang harus mengingat semua pelajaran yang dulu telah diajarkan.

"Cin, kamu harus jaga kesehatan ya. Nanti om email apa-apa aja yang harus kamu jauhi" katanya lembut sambil mengelus kepala ku.
"Cindy sakit apa om? Kenapa harus ada yang Cindy jauhi?" tanyaku.
"Kamu nggak kenapa-kenapa sayang, kamu cuma perlu perawatan dan nggak boleh terlalu capek beberapa bulan ini. Selama kamu libur, kamu harus ikuti semua apa yang om Edi perintahkan ya..." kata Bunda sambil memeluk ku.
Sepanjang perjalanan pulang kerumah, Ayah dan Bunda hanya terdiam. Yang terdengan hanyalah suara siaran radio kesayangan ku.
***

Beberapa bulan kemudian 

Seminggu sebelum kepulangan ku ke Bandung. Aku, Ayah, Bunda dan adik kesayangan ku Nindy pergi menemui om Edi ditempat prakteknya. Keadaan ku mulai membaik. 'dia' udah jarang marah pada ku dan aku udah jarang merasakan sakit ketika dia marah. Kali ini semua bernyanyi mengikuti lagu yang dimainkan di siaran radio kesayangan ku. Bahagia sekali ketika aku melihat wajah orang-orang yang aku sayang tersenyum seperti ini.

"Cin, nanti kalau kamu udah balik ke Bandung, jaga kesehatan ya nak. Jangan buat Ayah dan Bunda khawatir terus" kata Ayah lembut. Kalimat lembut yang Ayah lontarkan menancap di hati ku. Ingin menangis dan meminta maaf kepada mereka karena ternyata selama ini aku sudah membuat Ayah, Bunda, Nindy dan kakak ku khawatir. Aku hanya mengangguk dan menjawab kata-kata Ayah dalam hati,

  "Cindy janji Yah, nggak akan buat Ayah,Bunda dan semua khawatir dan sedih karena Cindy, Cindy janji"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar