Aku Cindy dan aku suka hujan. Mungkin terlihat bodoh ketika orang melihat q tersenyum bahagia saat hujan datang. Kebahagiaan yang ku rasakan sama seperti katak-katak yang bernyanyi gembira menyambut datangnya hujan, bahkan hujan lah yang selalu mereka nanti. Tanpa takut kuatnya petir dan dinginnya tiap tetesan air hujan, mereka selalu menyambutnya dengan tarian dan nyanyian bak penari papan atas.
Tapi, tidak untuk malam ini. Malam ini aku membenci kehadiran nya.
Bandung,
Kota ini menjadi kota kedua ku. Anak manja dan rapuh seperti aku, harus hidup sendiri di kota kembang ini. Ini pilihan ku, dan bagaimana pun aku harus terus bertahan disini sampai cita dan harapan ku terwujud. Kota ini menjadikan ku wanita yang mandiri, dan aku bukan lagi gadis manja yang semua keperluan selalu disiapkan. Bukan lagi tuan putri yang selalu diantar jemput kesana kemari. Disini semua harus aku kerjakan sendiri.
Kadang, aku merasa sendiri. Aku ingin pulang, aku benci tempat ini. Tapi, itu hanya membuatku seperti anak bodoh dan lemah. Seperti malam ini, rasanya aku ingin berada disamping bunda. Aku ingin merasakan hangatnya pelukan bunda, merdu suaranya dan belaian tangannya yang membuatku terlelap hingga aku tidur. Aku membutuhkan wanita tercantik itu disini malam ini.
***
"Ya Allah, ampuni hamba, jangan siksa hamba dengan dinginnya malam ini" jerit batin q. Mungkin hanya Dia yang dapat mendengarkan jeritan ku saat ini.
Ingin rasanya aku berbagi cerita kepada orang yang tepat. Kepada mereka yang aku sebut sahabat. Tapi, aku tak mungkin selalu menyusahkan mereka dengan masalah-masalah ku. Karena aku juga tak ingin mereka mencemaskan ku disini. Kalau kata orang sahabat itu harus saling berbagi saat senang dan sedih, tapi tidak bagiku. Aku tak ingin berbagi kesedihan ku kepada mereka. Aku hanya akan berbagi hal- hal yang membuat mereka tertawa dan tersenyum. Bukan berarti aku tak ingin ada saat mereka sedih, aku akan selalu siap menampung cerita atau hal-hal yang membuat mereka menangis, dan bahu ku selalu ada untuk mereka saat mereka membutuhkannya.
Kini, jarak yang cukup jauh memisahkan aku dan gadis-gadis cantik kesayanganku. Mereka sahabat ku. Sahabat yang selalu membuat ku merasa dihargai, merasakan indahnya berbagi dan saling menyayangi. Karakter dan sifat yang saling berbeda yang membuat kami saling mengisi satu sama lain. Dan hal itu juga yang menciptakan suasana ceria disetiap hari-hari kebersamaan ku dengan mereka.
Hampir 3 tahun jarak telah menjadi pemisah diantara kami. Dan aku merasa semakin hari mereka semakin jauh dari ku. Mungkin karena kesibukan satu sama lain, bukan karena mereka melupakan ku, pikir ku dalam hati.
"andai aja kalian tau, aku merindukan tawa dan tangis kita saat kita saling berbagi" hati ku menjerit seakan berharap mereka mendengarkannya.
Bodoh, apa yang telah aku pikirkan . Hal bodoh itu hanya semakin membuat ku rapuh malam ini. Nggak boleh, aku gak boleh jadi cewek cengeng dan lemah. Aku harus kuat, aku harus tetap jadi Cindy yang dulu. Yang aktif, ceria, dan gadis yang nggak takut dengan tantangan baru. Aku harus tetap menjadi Cindy yang bermanfaat untuk orang yang aku sayangi dan Cindy yang bekerja keras untuk mencapai target yang telah disusun.
Tuhan, apakah aku boleh mengulang waktu? Apakan aku boleh memilih? Kalau memang aku diperbolehkan memilih, aku ingin menjadi diriku yang dulu, Cindy yang dulu.
***
Semua berawal dari sini....
Dia datang saat aku menjadi mahasiswi baru dikampus kedua ku. Kedatangannya tak ku harapkan sedikit pun, mungkin gadis seusia ku pun tak akan ingin menerimanya hadir menemani hari-hari mereka. Kadang pikiran bodoh ku muncul dengan sendirinya, berfikir kalau dia adalah hadiah dari Tuhan atas kelulusan ku dikampus ku terdahulu. Tapi, aku yakin dibelahan dunia mana pun nggak akan ada yang mau menerima hadiah seperti ini.
Kampus baru, teman baru dan suasana baru. Tapi itu tak akan menjadi masalah besar buat ku. Karena aku bersyukur dapat dengan mudah bersosialisasi ditempat baru dimana pun aku dicampakkan. Aku mudah berteman dengan siapa aja. Dan aku nggak takut untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu untuk mendapatkan teman. Dan disini aku memiliki banyak teman. Tapi aku tetap saja merasa sendiri.
Hampir satu tahun aku berada dikampus ini, dan saat itu juga dia datang menghampiriku. Tanpa memberi kabar atau mngucapkan salam dia telah singgah ditubuh ku ini. Saat dia menghampiriku, hanya rasa takut dan air mata yang terus menetes yang aku sajikan untuk menerima kehadirannya. Mungkin air mata sebagai penghilang dahaganya dan rasa takut di dada ku sebagai cemilan yang membuat dia tetap bertahan. Bodoh, pikiran bodoh lagi-lagi menari-nari dikepala ku.
"Apa ini? Apa salah ku? Kenapa harus aku?" pertanyaan-pertanyaan itu terus berputas-putar di pikiran ku.
Aku tak tau harus mengadu pada siapa, harus berbagi pada siapa. Aku takut. Aku sendiri. Aku terpuruk. Hal yang pertama yang bisa aku lakukan saat ini hanya menampar wajah ku sekuat yang q bisa berharap apa yang terjadi pagi itu hanya mimpi buruk. Mimpi karena mungkin aku lupa mengucap syukur kepada Nya. Tapi itu semua sia-sia. Aku nggak sedang bermimpi, ini nyata ini nyata dan dia memang ada. Aku tak ingin keluarga ku tau. Aku tak ingin membuat mereka menghawatirkan ku. Aku juga tak ingin semakin banyak air mata yang menetes lagi. Cukup aku yang memberikan air mata ini untuk menyambutnya.
Dengan hati yang remuk dan tubuh yang lemas aku menguatkan diri untuk melanjutkan aktifitasku dihari itu. Tanpa sedikit pun aku melepaskan tangan dari handphone yang aku gunakan untuk mencari tau siapa dia. Banyak nama-nama aneh yang aku temukan tentang apa dan siapa dia. Dan semua itu semakin membuat ku terpuruk. Rasanya darah ku berhenti mengalir setiap kali aku menemukan penjelasan tentang apa dia. Tak ada seorang pun yang tau tentang hari itu. Hanya pada salah satu sahabatku aku menceritakan tentang kehadirannya. Aku sama sekali tak bermaksud untuk membuatnya masuk dalam kesedihan dan rasa takut ku. Tapi aku bingung harus menceritakan ini kepada siapa lagi. Jauh diseberang sana, Clara sahabat baikku menenangkan ku. Walaupun sebenarnya aku tau dia menagis ketika mendengar ceritaku. Dia menyarankan ku untuk segera mengecek tentang keberadaan tamu yang tak ku undang itu. Tapi aku menolaknya dan penolakan itu membuatnya semakin menghawatirkan ku.
Aku berusaha melupakan tentang kehadirannya. Tapi dia selalu menghantui hari-hari ku. Setiap detik Clara selalu menanyakan kabar ku. Tak lupa dia mengingatkan ku untuk makan dan tetap memaksaku untuk bertindak. Sampai pada suatu saat Clara mengancam ku, "Cin, Please kali ini dengerin aku. Aku mohon kamu harus secepatnya mencari tau tentang dia, aku khawatir akan kondisimu kedepannya." desak Clara diikuti tangis kecil yang aku dengar. Lagi dan lagi aku menolak permintaannya. Dan Clara terus mendesakku. Entah dari mana dia mempunyai ide untuk mengancamku, "OK, kalau kamu tetap gak mau, aku akan menghubungi om dan tante. Aku akan menceritakan semuanya kepada mereka. Kamu mau mereka tau atau kamu mau ngikutin saran ku?" ancamnya padaku. Aku hanya bisa menahan air mata dan entah mengapa tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut ku. Yang ada dipikiran ku hanya lah wajah Ayah dan Bunda. Aku nggak mau mereka tau dan aku takut untuk mengetahui apa dan siapa tamu ku ini. Aku takut. Aku bingung.
***
bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar