Jumat, 25 November 2011

BISA!!!

suatu kebanggaan bila kamu dapat membuktikan kamu bisa. dan hal yg paling indah saat hasil yang kmu dpt itu, dpt memberikan senyuman dan kebanggaan untuk org2 yang kamu sayang. Terus berusaha dan berdoa. Yakinkan hati dan tanamkan : "AKU BISA DAN PASTI BISA" 
-dienie's 251111-

Minggu, 20 November 2011

Please forgive me

"Cuma kata MAAF yang bisa dini ucapkan untuk mama dan papa.
Dini gak maksud buat mama papa khawatir lagi.
Dini minta MAAF dan MAAF...
Dini udah coba buat nyimpan ini sendiri,tapi Dini takut.
Maafin dini ma,pa...
Mama jangan nangis lagi ya.
Insyaallah dini baik-baik aja. Dini janji dini nggak kenapa-kenapa..

Please forgive me mom,dad..."

-dienie's 20112011-

Selasa, 15 November 2011

Apa dan siapa DIA - Part 2

Beberapa bulan kemudian....

Dia, ya dia... Dia yang sekarang selalu menemaniku kemana pun dan dimana pun aku berada. Dan sekarang aku mulai mengenal siapa dia,walaupun aku nggak terlalu yakin siapa nama dia sebenarnya. Tapi, aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Dan rasa takut yang dulu aku sajikan untuk penghilang dahaganya kini mulai berkurang. Kini aku sudah mulai terbiasa. Walau ketika dia mulai jahat pada ku dan membuat tubuhku rapuh, aku mulai terbiasa. Ya terbiasa...

Kadang, ketika dia marah pada ku dan membuat tubuh ku sedikit melemah, aku ingin marah padanya dan marah pada Dia sang pencipta alam semesta. "Ini gak adil" batin ku. "Kenapa harus aku? Kenapa nggak mereka?"  pertanyaan itu yang terus aku lontarkan kepada Nya. Walaupun aku tau ini bukan salah Dia, ini hadiah darinya. Dan aku selalu yakin tak ada penyakit yang tak ada obatnya.

Ingin rasanya aku marah pada mereka yang selalu melihat aku aneh. Lontaran kata-kata dari mulut mereka yang membuatku merasa lebih sakit dari apa yang aku rasakan ketika tamu tak ku undang ini marah padaku.
'Penyakitan' kata-kata itu yang menyayat perasaan ku. Aku bukan penyakitan, hanya saja aku belum sembuh!!!

Kata-kata itu terlalu kasar untuk mereka ucapkan. Didunia ini, nggak ada 1 orang pun yang merasa senang dengan sebutan seperti itu, begitu juga dengan ku. Aku juga nggak memilih untuk dilahirkan dengan kondisi  dan daya tahan tubuh yang lemah. Aku ingin selalu sehat dan bebas melakukan apa pun yang aku mau. Tapi, aku si Cindy yang ditakdirkan seperti ini. Aku yakin, suatu saat aku bisa lebih berhasil dari mereka yang meremehkan dan menganggap aku lemah.

***

Liburan semester lalu, kedua orang tua ku mengetahui kondisi ku. Dan mereka segera membawa ku ke seorang dokter yang sudah menjadi dokter kepercayaan keluarga. Rasa takut itu kini bukan hanya aku yang merasakan, tetapi Ayah dan Bunda juga merasakannya. Mungkin takut yang mereka rasakan lebih besar dari pada yang ku rasa. Ingin rasanya aku meminta maaf atas semua ini. Tapi aku tak tau harus menyalahkan siapa dan marah kepada siapa. Hati ku menjerit ketika melihat raut wajah kedua orang tua ku saat itu.

Beberapa saat kemudian. Sosok pria yang usianya tak jauh dari usia Ayah menghampiri kami bertiga. Senyumannya begitu hangat. Sejak kecil, dia selalu menangani ku ketika aku sakit. Dokter Edi terlihat lebih muda dengan senyumannya sore itu. 

"Hai Cindy, apa kabar? Udah lama ya kita nggak ketemu" sapanya dengan lembut. "Gimana kuliah kamu? Lancar? Dengar-dengar kemarin udah wisuda ya? Wah mau kado apa ni dari om?" lanjutnya dan tetap memberikan ku senyuman.

Percakapan yang aku anggap cuma basa - basi itu berlangsung 10 menit. Kemudian aku diajak om Edi masuk kedalam ruang kerjanya. Dingin, putih dan bersih. Aku disambut lembut dengan seorang perawat diruangan om Edi. Perawat itu kemudian mengajakku kedalam ruangan lain, dia memintaku untuk melepaskan semua pakaian yang aku kenakan dan menggantinya dengan pakaian berwarna putih bersih. Setelah itu, aku dituntun lagi keruangan om Edi. Selanjutnya giliran om Edi yang menanganiku. Dia mulai memasang alat-alat yang aku tak tau apa namanya. Aku hanya mengikuti apa yang dia suruh untuk aku lakukan.

Hampir 30 menit aku melalukan proses pemeriksaan. Om Edi meminta ku keluar dan sekarang giliran Ayah Bunda yang memasuki ruangannya. Beberapa saat kemudian, Ayah, Bunda dan om Edi keluar. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Yang terlintas dipokiranku hanya lah nama-nama tentang siapa dia yang dulu pernah aku cari. Serasa mengikuti ujian akhir sekolah yang harus mengingat semua pelajaran yang dulu telah diajarkan.

"Cin, kamu harus jaga kesehatan ya. Nanti om email apa-apa aja yang harus kamu jauhi" katanya lembut sambil mengelus kepala ku.
"Cindy sakit apa om? Kenapa harus ada yang Cindy jauhi?" tanyaku.
"Kamu nggak kenapa-kenapa sayang, kamu cuma perlu perawatan dan nggak boleh terlalu capek beberapa bulan ini. Selama kamu libur, kamu harus ikuti semua apa yang om Edi perintahkan ya..." kata Bunda sambil memeluk ku.
Sepanjang perjalanan pulang kerumah, Ayah dan Bunda hanya terdiam. Yang terdengan hanyalah suara siaran radio kesayangan ku.
***

Beberapa bulan kemudian 

Seminggu sebelum kepulangan ku ke Bandung. Aku, Ayah, Bunda dan adik kesayangan ku Nindy pergi menemui om Edi ditempat prakteknya. Keadaan ku mulai membaik. 'dia' udah jarang marah pada ku dan aku udah jarang merasakan sakit ketika dia marah. Kali ini semua bernyanyi mengikuti lagu yang dimainkan di siaran radio kesayangan ku. Bahagia sekali ketika aku melihat wajah orang-orang yang aku sayang tersenyum seperti ini.

"Cin, nanti kalau kamu udah balik ke Bandung, jaga kesehatan ya nak. Jangan buat Ayah dan Bunda khawatir terus" kata Ayah lembut. Kalimat lembut yang Ayah lontarkan menancap di hati ku. Ingin menangis dan meminta maaf kepada mereka karena ternyata selama ini aku sudah membuat Ayah, Bunda, Nindy dan kakak ku khawatir. Aku hanya mengangguk dan menjawab kata-kata Ayah dalam hati,

  "Cindy janji Yah, nggak akan buat Ayah,Bunda dan semua khawatir dan sedih karena Cindy, Cindy janji"


Selasa, 01 November 2011

Apa dan siapa DIA - Part 1

Malam ini hujan turun makin deras. Dinginnya terasa sampai ke tulang-tulang q. Bahkan kedua selimut tebal dikamar ku tak mampu memberikan kehangatan untuk tubuh rapuh ku ini. Ingin rasanya aku marah pada malaikat yang bertugas menurunkan hujan malam ini. Tapi itu hanya membuat q terlihat seperti orang bodoh dan tolol. Hujan dan malam ini benar-benar menjadikan ku tak berdaya.

Aku Cindy dan aku suka hujan. Mungkin terlihat bodoh ketika orang melihat q tersenyum bahagia saat  hujan datang. Kebahagiaan yang ku rasakan sama seperti katak-katak yang bernyanyi gembira menyambut datangnya  hujan, bahkan hujan lah yang selalu mereka nanti. Tanpa takut kuatnya petir dan dinginnya tiap tetesan air hujan, mereka selalu menyambutnya dengan tarian dan nyanyian bak penari papan atas.
Tapi, tidak untuk malam ini. Malam ini aku membenci kehadiran nya.

Bandung,
Kota ini menjadi kota kedua ku. Anak manja dan rapuh seperti aku, harus hidup sendiri di kota kembang ini. Ini pilihan ku, dan bagaimana pun aku harus terus bertahan disini sampai cita dan harapan ku terwujud. Kota ini menjadikan ku wanita yang mandiri, dan aku bukan lagi gadis manja yang semua keperluan selalu disiapkan. Bukan lagi tuan putri yang selalu diantar jemput kesana kemari. Disini semua harus aku kerjakan sendiri.

Kadang, aku merasa sendiri. Aku ingin pulang, aku benci tempat ini. Tapi, itu hanya membuatku seperti anak bodoh dan lemah. Seperti malam ini, rasanya aku ingin berada disamping bunda. Aku ingin merasakan hangatnya pelukan bunda, merdu suaranya dan belaian tangannya yang membuatku terlelap hingga aku tidur. Aku membutuhkan wanita tercantik itu disini malam ini.

***

Hujan di awal November. banyak orang bilang ini suatu berkah dari Nya. Ini bulan yang penuh dengan kebahagiaan. Tapi apa kebahagiaan itu juga diperuntukkan buat ku? Bagaimana mungkin kebahagiaan itu akan datang pada ku kalau tanggal pertama dibulan ini telah memberikan rasa sakit dan kesedihan yang mendalam di tubuhku. Apa ini yang orang sebut dengan kebahagiaan? Ntah lah, saat ini aku hanya bisa menahan rasa yang tak bisa aku tuliskan dengan kata-kata.

"Ya Allah, ampuni hamba, jangan siksa hamba dengan dinginnya malam ini"  jerit batin q. Mungkin hanya Dia yang dapat mendengarkan jeritan ku saat ini.

Ingin rasanya aku berbagi cerita  kepada orang yang tepat. Kepada mereka yang aku sebut sahabat. Tapi, aku tak mungkin selalu menyusahkan mereka dengan masalah-masalah ku. Karena aku juga tak ingin mereka mencemaskan ku disini. Kalau kata orang sahabat itu harus saling berbagi saat senang dan sedih, tapi tidak bagiku. Aku tak ingin berbagi kesedihan ku kepada mereka. Aku hanya akan berbagi hal- hal yang membuat mereka tertawa dan tersenyum. Bukan berarti aku tak ingin ada saat mereka sedih, aku akan selalu siap menampung cerita atau hal-hal yang membuat mereka menangis, dan bahu ku selalu ada untuk mereka saat mereka membutuhkannya.

Kini, jarak yang cukup jauh memisahkan aku dan gadis-gadis cantik kesayanganku. Mereka sahabat ku. Sahabat yang selalu membuat ku merasa dihargai, merasakan indahnya berbagi dan saling menyayangi. Karakter dan sifat yang saling berbeda yang membuat kami saling mengisi satu sama lain. Dan hal itu juga yang menciptakan suasana ceria disetiap hari-hari kebersamaan ku dengan mereka.
Hampir 3 tahun jarak telah menjadi pemisah diantara kami. Dan aku merasa semakin hari mereka semakin jauh dari ku. Mungkin karena kesibukan satu sama lain, bukan karena mereka melupakan ku, pikir ku dalam hati.

"andai aja kalian tau, aku merindukan tawa dan tangis kita saat kita saling berbagi" hati ku menjerit seakan berharap mereka mendengarkannya.


 Bodoh, apa yang telah aku pikirkan . Hal bodoh itu hanya semakin membuat ku rapuh malam ini. Nggak boleh, aku gak boleh jadi cewek cengeng dan lemah. Aku harus kuat, aku harus tetap jadi Cindy yang dulu. Yang aktif, ceria, dan gadis yang nggak takut dengan tantangan baru. Aku harus tetap menjadi Cindy yang bermanfaat untuk orang yang aku sayangi dan Cindy yang bekerja keras untuk mencapai target yang telah disusun.

Tuhan, apakah aku boleh mengulang waktu? Apakan aku boleh memilih? Kalau memang aku diperbolehkan memilih, aku ingin menjadi diriku yang dulu, Cindy yang dulu.


***

Semua berawal dari sini....
Dia datang saat aku menjadi mahasiswi baru dikampus kedua ku. Kedatangannya tak ku harapkan sedikit pun, mungkin gadis seusia ku pun tak akan ingin menerimanya hadir menemani hari-hari mereka. Kadang pikiran bodoh ku muncul dengan sendirinya, berfikir kalau dia adalah hadiah dari Tuhan atas kelulusan ku dikampus ku terdahulu. Tapi, aku yakin dibelahan dunia mana pun nggak akan ada yang mau menerima hadiah seperti ini.

Kampus baru, teman baru dan suasana baru. Tapi itu tak akan menjadi masalah besar buat ku. Karena aku bersyukur dapat dengan mudah bersosialisasi ditempat baru dimana pun aku dicampakkan. Aku mudah berteman dengan siapa aja. Dan aku nggak takut untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu untuk mendapatkan teman. Dan disini aku memiliki banyak teman. Tapi aku tetap saja merasa sendiri.

Hampir satu tahun aku berada dikampus ini, dan saat itu juga dia datang menghampiriku. Tanpa memberi kabar atau mngucapkan salam dia telah singgah ditubuh ku ini. Saat dia menghampiriku, hanya rasa takut dan air mata yang terus menetes yang aku sajikan untuk menerima kehadirannya. Mungkin air mata sebagai penghilang dahaganya dan rasa takut di dada ku sebagai cemilan yang membuat dia tetap bertahan. Bodoh, pikiran bodoh lagi-lagi menari-nari dikepala ku.

"Apa ini? Apa salah ku? Kenapa harus aku?" pertanyaan-pertanyaan itu  terus berputas-putar di pikiran ku. 

Aku tak tau harus mengadu pada siapa, harus berbagi pada siapa. Aku takut. Aku sendiri. Aku terpuruk. Hal yang pertama yang bisa aku lakukan saat ini hanya menampar wajah ku sekuat yang q bisa berharap apa yang terjadi pagi itu hanya mimpi buruk. Mimpi karena mungkin aku lupa mengucap syukur kepada Nya. Tapi itu semua sia-sia. Aku nggak sedang bermimpi, ini nyata ini nyata dan dia memang ada. Aku tak ingin keluarga ku tau. Aku tak ingin membuat mereka menghawatirkan ku. Aku juga tak ingin semakin banyak air mata yang menetes lagi. Cukup aku yang memberikan air mata ini untuk menyambutnya. 

Dengan hati yang remuk dan tubuh yang lemas aku menguatkan diri untuk melanjutkan aktifitasku dihari itu. Tanpa sedikit pun aku melepaskan tangan dari handphone yang aku gunakan untuk mencari tau siapa dia. Banyak nama-nama aneh yang aku temukan tentang apa dan siapa dia. Dan semua itu semakin membuat ku terpuruk. Rasanya darah ku berhenti mengalir setiap kali aku menemukan penjelasan tentang apa dia. Tak ada seorang pun yang tau tentang hari itu. Hanya pada salah satu sahabatku aku menceritakan tentang kehadirannya. Aku sama sekali tak bermaksud untuk membuatnya masuk dalam kesedihan dan rasa takut ku. Tapi aku bingung harus menceritakan ini kepada siapa lagi. Jauh diseberang sana, Clara sahabat baikku menenangkan ku. Walaupun sebenarnya  aku tau dia menagis ketika mendengar ceritaku. Dia menyarankan ku untuk segera mengecek tentang keberadaan tamu yang tak ku undang itu. Tapi aku menolaknya dan penolakan itu membuatnya semakin menghawatirkan ku.

 Aku berusaha melupakan tentang kehadirannya. Tapi dia selalu menghantui hari-hari ku. Setiap detik Clara selalu menanyakan kabar ku. Tak lupa dia mengingatkan ku untuk makan dan tetap memaksaku untuk bertindak. Sampai pada suatu saat Clara mengancam ku, "Cin, Please kali ini dengerin aku. Aku mohon kamu  harus secepatnya mencari tau tentang dia, aku khawatir akan kondisimu kedepannya." desak Clara diikuti tangis kecil yang aku dengar. Lagi dan lagi aku menolak permintaannya. Dan Clara terus mendesakku. Entah dari mana dia mempunyai ide untuk mengancamku, "OK, kalau kamu tetap gak mau, aku akan menghubungi om dan tante. Aku akan menceritakan semuanya kepada mereka. Kamu mau mereka tau atau kamu mau ngikutin saran ku?" ancamnya padaku. Aku hanya bisa menahan air mata dan entah mengapa tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut ku. Yang ada dipikiran ku hanya lah wajah Ayah dan Bunda. Aku nggak mau mereka tau dan aku takut untuk mengetahui apa dan siapa tamu ku ini. Aku takut. Aku bingung.

***

bersambung.....